Blogger Template Style Name: Picture Window Designer: Josh Peterson URL: www.noaesthetic.com

Kamis, 01 Desember 2011

Tawakkal Itu Indah

Karena manusia adalah makhluk lemah, penuh kekurangan dan keterbatasan –baik pada jiwa maupun raganya-, sehingga dengan kesadaran naluri atas ketidak sempurnaan itu, sudah menjadi fitrah manusia untuk selalu bergantung kepada yang lebih kuat dan sempurna. Seperti ketergantungan seorang anak kepada orang tuanya, rakyak kepada pemimpinnya, istri kepada suaminya, seorang mu'min kepada Rabbnya, dan lain sebagainya.

Lantaran keterbatasan potensi jiwa, seperti akal dan naluri dalam memahami suatu kondisi, serta keterbatasan raga atau potensi fisik dalam melakukan suatu tindakan, manusia - terpaksa atau karena kemauan sendiri- mesti menggantungkan segala urusannya kepada Yang Maha Sempurna dan Mengetahui. Dari sinilah kemestian tawakkal itu.

Sebaliknya difahami, bahwa tidak bergantung kepada Dzat yang Maha Sempurna dalam urusan apapun, itulah inti kesombongan. Sebab secara tidak langsung, manusia telah menganggap bahwa atas usahanyalah, sepenuhnya ia mencapai keinginannya, tanpa campur tangan Allah
Azza wa Jall. Semisal Qarun yang binasa bersama hartanya. Ketika berucap "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". (28:78)
Ungkapan di atas, sepintas lalu tidaklah terlalu berkesan di benak, akan tetapi pada hakikatnya adalah penafian qodrat dan taqdir Allah
Azza wa jall. Inti kekufuran. Karenanya, tawakkal adalah unsur struktur utama pondasi keimanan itu, "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (5:23)

Lantas existensinya dalam jiwa seorang mu'min, bahwa sifat tawakkal, jika ia betul-betul adalah manifestasi iman yang terpatri dalam hati, ia akan sanggup membangun kepercayaan diri, memperteguh pendirian, menggali potensi, membakar semangat, dan mewariskan ketenangan jiwa dan rasa aman pada setiap buah usaha itu, apapun bentuknya. Demikian itu, lantaran hati sebagai central kendali, sangat menyadari bahwa urusan itu telah ia serahkan kepada Yang Maha Bijaksana dan telah membingkai segala perkara dalam taqdirnya. Betapa indah bergantung padaNya!. 'Tak mungkin rugi apatahlagi celaka. Itulah janji Allah dalam al-Qur'an "
Dan siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Ia telah cukup baginya" (65:3), "Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati," (25:58)
Namun tentunya dengan satu syarat, jika ingin menuai buah segar usaha tersebut; selalu berlandaskan 'prasangka baik' kepadaNya, Kata Allah
Azza wa Jall dalam sebuah hadits Qudsy "Aku, tergantung persangkaan hambaKu kepadaKu, maka berprasangkalah dia padaKu sekehendaknya!..."
[1]

Atas dasar itu, tawakkal adalah sifat utama yang menghiasi hidup para Nabi dan Rasul Allah Azza wa Jall, dalam mengemban amanah menyebar syari'at yang begitu berat di muka bumi ini; sebagai kunci solusi, pengetuk pintu rahmat dan pembuka pertolongan Allah Azza wa Jall. Maka selamatlah Nabiullah Ibrahim alaihissalam dari gejolak api ketika hendak dibakar oleh kaumnya. Ketika itu, Jibril alaihissalam datang dan menyapa beliau "Adakah yang engkau butuhkan?", "adapun kepadamu maka tidak, tapi kepada Allah, cukuplah Allah bagiku sebaik-baik Penolong", jawab beliau. Seketika pun api menjadi dingin.
Dan amanlah Musa
alaihissalam bersama kaumnya dari kejaran tentara Fir'aun ketika terjebak laut, yang sampai-sampai Bani Israil berkata "kita pasti akan tertangkap", Musa berkata "Sesungguhnya Rabbku menyertaiku akan memberi petunjuk", maka 'tak lama kemudian, diwahyukanlah kepada beliau agar memukulkan tongkatnya ke laut hingga terbelah, tiap belahan besarnya seperti gunung.
Dan sejahteralah Muhammad
shalallahu 'alaihi wa sallam bersama Abu Bakar radiallahu 'anhu sampai ke Madinah pada awal hijrah beliau. Dimana Abu bakar sempat berkata "Kalau saja orang-orang musyrik itu melihat ke bawah kaki mereka, pastilah mereka melihat kami". Kata Nabi "bagaimanakah menurutmu tentang dua orang, Allah pihak ke tiganya?, jangan khawatir!, sesungguhnya Allah bersama kita."

Sifat ini pun yang tertanam pada diri setiap keluarga mereka, seperti keteguhan Hajar bersama bayinya; Ismail
alaihissalam saat ditinggal di lembah gersang di bawah terik mentari yang membakar tanpa seteguk air dan makanan pun. Hajar berkata "Untuk siapakah engkau tinggalkan kami, wahai Ibrahim?", Ibrahim terdiam, tanpa jawaban. "Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?", lanjut Hajar bertanya. Dengan isyarat Ibrahim pun meng-iyakan, "jika demikian Ia 'tak 'kan menyia-nyiakan kami", tutur Hajar dengan penuh keyakinan.
Dan keteguhan Ibunda Musa
alaihissalam ketika menghanyutkan bayinya di sungai lantaran khawatir akan tertangkap lantas dibunuh tentara firaun.

Demikian pula sifat yang diwarisi para sahabat Nabi
shallallu 'alaihi wa sallam yang pantang mundur menghadapi pasukan Quraisy di medan Badar dengan jumlah yang sangat tak sebanding.

Abu Bakar yang mendermakan seluruh hartanya di jalan Allah.

Mus'ab bin 'Umair seorang sahabat mulia yang parlente meninggalkan elusan hidup serba lux itu dan lebih memilih hidup bersama Allah dan rasulNya.

Sahabat Muhajirin yang meninggalkan harta bendanya di Mekah, tanpa bekal yang memadai menuju ke negeri hijrah. "
tunjukkan aku Pasar!", itulah ungkapan Abdurrahman bin 'Auf radiallahu'anhu setelah tiba di Madinah.

Dan kondisi para sahabat setelah perang Uhud, ketika mereka mendengar bahwa kaum musyrikin akan bersatu untuk mengalahkan mereka, sedikit pun mereka 'tak peduli, 'tak bergeming, bahkan berita itu semakin menambah iman mereka. Mereka serahkan urusan itu kepada Allah
Azza wa Jall, maka Allah pun selamatkan dari musuh-musuh mereka, sebagaimana yang telah tercatat dalam al-qur'an:
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati perintah Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: " Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka ", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:" Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (3) : 173

Kisah-kisah menakjubkan di atas, tentu tidaklah diabadikan dalam Al-Qur'an kecuali karena tingginya nilai tawakkal dalam ad-Dien ini. Bekal utama seorang mu'min dalam mengarungi samudera kehidupan.

Dan inilah buah didikan mereka. Seorang sahabat masuk ke masjid Nabi shallallu 'alaihi wa sallam diluar waktu shalat, beliau mendapati seorang anak kecil yang belum berusia sepuluh tahun sementara menikmati shalatnya dengan penuh khusyu', sahabat itu pun menunggunya hingga selesai shalat, kemudian mendekati dan memberi salam kepadanya.

"
Anak siapakah engkau?", tanya beliau.

Anak itu menundukkan kepalanya, sementara air mata mengalir di pipinya. Kemudian Ia angkat kepalanya sambil berkata:

"
Wahai paman, aku anak yatim; 'tak punya ibu dan bapak."

Terpukullah hati sahabat itu.

Beliau pun berkata; "
Sudikah engkau menjadi anakku?", pinta beliau.

"
Jika aku lapar, apakah engkau memberiku makan?", tanya anak itu.

"
ya", ujar sahabat.

"
Jika aku 'tak berpakaian, apakah engkau memberiku pakaian?", lanjut anak itu bertanya.

"
ya", jawab sahabat, lebih meyakinkan.

"
Jika aku sakit, bisakah engkau menyembuhkanku?",

"
Itu hal yang tidak mungkin", kata sahabat.

"
Jika aku mati, dapatkah engkau menghidupkanku?",

"
Itu hal yang tidak mungkin", kata sahabat mengulangi jawaban.

Akhirnya anak itu berkata :"
Kalau begitu, biarkanlah aku paman!, bersama Yang menciptakanku dan memberiku hidayah, Yang memberiku makan dan minum, Yang jika aku sakit Ia menyembuhkanku, Yang mematikanku kemudian menghidupkanku kembali, Yang sangat aku harapkan mengampuni dosa-dosaku di Hari Pembalasan."
Maka terdiamlah sahabat itu seribu bahasa sambil berlalu dan berkata "
Aku telah beriman kepada Allah, barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah telah cukup baginya."
[2]

Sirna sudah makna tawakkal.
Banting tulang lupakan Yang di atas.
Jadilah segalanya terserah akal.
Gantungkan harapan dari tangan di atas.

Subhanallah…!.
Itulah kondisi ketabahan, keteguhan buah hati para sahabat dalam kemiskinan.
Lalu, dimanakah manusia hari ini dari tawakkal?!.
Siapakah pahlawan…?!,
Siapakah pemberani…?!.
Yang mendidik putera-puteri mereka di atas al-Qur'an dan Sunnah Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menjadikan panutan para sahabat beliau?!.

Suatu hari, Hammad bin Maslamah
rahimahullah lewat di depan rumah tetangganya; seorang janda miskin ketika turun hujan. Tiba-tiba Beliau mendengar wanita itu berkata:

"
wahai Dzat Yang lemah lembut, berlemah lembutlah kepada kami!".

Maka Hammad menunggu hingga hujan redah kemudian mengetuk pintu rumah wanita itu, dan berkata:

"
Ambillah sepuluh dinar ini, pergunakanlah untuk kebutuhanmu!".

Tiba-tiba gadis yatim kecil berkata:

"
wahai ibu, mengapakah engkau mengangkat suaramu, sehingga engkau menjadikan Hammad perantara antara kita dengan Allah?".

Sang ibu menjawab:

"
aku tidak mengangkat suaraku, akan tetapi Al-Wakil; Allah-lah yang mengirimnya."

Subhanallah!, alangkah sejuknya hidup dengan tawakkal!.

Untaian kalimat indah itu tentu mustahil terurai, kecuali karena sifat tawakkal yang telah membaja di dalam dada, terpancar dari mata air kebeningan iman, hasil tarbiah pribadi-pribadi sejati.
Nabi bersabda "
Siapa yang tertimpa musibah kemiskinan kemudian menggantungkannya kepada manusia, niscaya kemiskinannya tidak akan tertutupi. Dan siapa yang menggantungkannya kepada Allah, maka telah hampir Allah akan memberinya kekayaan, baik dengan kematian yang dipersegera atau kekayaan yang dipercepat."
[3]

Dalam sebuah do'a yang Nabi ajarkan sebelum merebahkan badan,

اللهم أسلمت وجهي إليك و فوضت أمري إليك و ألجأت ظهري إليك رغبة ورهبة إليك لا ملجأ ولا منجى منك إلا إليك...

"Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepadaMU, kuserahkan urusanku kepadaMu, Kusandarkan punggungku kepadaMu, dengan rasa harap dan takut padaMu, tiada tempat perlindungan dan keselamatan darimu kecuali kepadaMu."[4]

Satu hal lagi yang patut ditekankan. Tawakkal kaitannya dengan 'usaha'. "Ikat baru tawakkal", ucap Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada seorang sahabat yang hendak menyimpan kendaraannya. Satu isyarat akan keterpautan 'usaha' dan 'tawakkal' yang 'tak terpisahkan. Bagai kedua sisi uang logam yang mustahil terceraikan.

Subhanallah!, Yang telah menciptakan segala sesuatu karena adanya 'sebab'. Tiap hasil ada sebabnya, dan tiap sebab ada hasilnya. Hanya saja, manusia –terkadang- lantaran kelemahan tauhidnya, menyangka bahwa hanyalah usaha atau 'sebab' satu-satunya yang telah membuahkan 'hasil', sehingga ia pun sepenuhnya bersandar kepadanya dan melupakan Pencipta 'sebab' itu. Ketahuilah, bahwa ini adalah satu wabah kesyirikan.

Adapula sebaliknya. Tawakkal tanpa usaha sedikit pun. Juga adalah setapak lorong maksiat. Sebab, segala sesuatu telah Allah taqdirkan karena adanya 'sebab'. 'Tak ada yang terjadi begitu saja tanpa sebab. Sehingga tawakkal mesti beriringan dengan usaha. Kata Allah "
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (3) : 159
Sebab 'tekad' tak mungkin muncul kecuali karena adanya niat untuk berusaha.

Justru dikhawatirkan, bagi yang lagi-lagi beralasan dengan kekuatan iman dan tawakkalnya, kemudian sama sekali tidak berusaha dan mencari 'sebab', sekadar berharap dan berdiam diri di dalam Masjid, atau melakukan aktifitas ibadah yang lain -termasuk di dalamnya berda'wah-, lantas mengabaikan hak diri dan keluarganya, sebenarnya adalah orang yang lari dari kewajiban, entah karena terbendung rasa malas, atau karena terperangkap salah satu jerat iblis. Yakni melakukan satu kewajiban tapi mengabaikan kewajiban yang lain; memenuhi kewajiban tawakkal, tapi melupakan kewajiban usaha, akhirnya tergelincir dalam perbuatan dosa.
Kata Nabi "
cukuplah dosa bagi seseorang karena menelantarkan yang ia (mesti) nafkahi."
[5]

Peristiwa hijrah Nabi ke Madinah adalah bukti ketauladanan terbaik beliau dalam mengambil segala 'asbab' sebelum bertawakkal. Beliau mulai dengan menempuh arah yang berlawanan arah Madinah, kemudian menetap di dalam gua selama tiga hari agar frekwensi pencarian melemah, menyiapkan pengirim bekal, penghapus jejak, pemberi kabar, dan memilih seorang yang masih musyrik sebagai penunjuk jalan. Barulah beliau bertawakkal hingga berhasil sampai ke Madinah. Hikmah keberhasilan beliau ini, agar Allah jelaskan, bahwa Nabi telah berusaha mencari 'sebab' sekuat tenaga dan tidak sekadar bertawakkal.

Abdurrahman bin 'Auf
radiallahu 'anhu, salah seorang sahabat yang hijrah ke Madinah, yang 'tak seorang pun di antara kita mengklaim dirinya lebih bertaqwa dari beliau. Setelah sampai di Madinah, dan setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mempersaudarakan beliau dengan Sa'ad bin Rabi' al-Anshary radiallahu 'anhu, Sa'ad menawarkan kepadanya untuk berbagi diantara istri-istri dan harta beliau, akan tetapi Abdurrahman -dengan sifat iffah dan tawakkal beliau- berkata "semoga Allah memberimu berkah pada keluarga dan hartamu, tunjukkan kepadaku pasar!."
[6]

Demikian itu, sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah berjanji dalam sabdanya "seandainya kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah, pastilah Ia akan memberimu rezeki sebagaimana burung yang keluar dipagi hari dalam keadaan lapar, kembali di sore hari dengan perut kenyang."
[7]

Faedah yang dapat dipetik dari hadits ini :
· Bahwa manusia harus menggantungkan segala urusannya kepada Allah
Azza wa Jall dengan sebenar-benar tawakkal.
· Bahwa 'tak satu pun makhluk bernyawa di muka bumi ini kecuali rezekinya di tangan Allah.
· Bahwa setelah manusia bertawakkal, ia mesti mengambil asbab dan berusaha sekuat tenaga, sebagaimana burung yang keluar mencari makan di pagi hari, pulang di sore hari.

Sebuah hadits yang juga patut untuk dihayati dalam perkara ini, kata Nabi "
Andai qiyamat akan terjadi, dan di tangan salah seorang di antara kalian terdapat benih, jika ia sanggup untuk menanamnya sebelum terjadi kiamat, maka hendaklah ia menanamnya!"
[8]

Maka hanyutkanlah tawakkal itu kepada yang Maha luas rahmat dan kasih sayangNya, sambil menyisingkan lengan baju, agar jiwa terasa aman hati pun tenteram!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Read more: http://monozcore.blogspot.com/2011/08/blog-widget-burung-terbang-twitter.html#ixzz1fHo4xEHs